“Jika hendak berdoa pada tuhan, hati-hati”

Aku adalah pribadi yang gemar membuat resolusi. Maka yang
akan aku bicarakan disini adalah perihal mimpi dan sebab mengapa mimpi begitu
diingini.

Tepat di tahun ini, aku merasa seperti aku rindu aku yang
dulu; perasaan yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Aku akhirnya sadar bahwa
3 tahun belakangan hidupku sangat amat tidak baik; aku seperti berhenti di satu
titik dan memberi acuh pada yang bukan titik. Hidupku berhenti di saat semua
orang berlari. Aku terlalu sibuk mengamat titik; titik titik titik titik titik
titik titik dan titik terus sampai semua hal di alam semesta selalu terlihat
seperti titik.

Aku seperti hilang arah. Semua hal dihidupku hanya perihal
ambisi kepada titik. Aku tahu itu salah, maka dari itu di tahun ini aku
berjanji untuk membuat hidupku kembali baik.

Semua rencana besar itu aku mulai dengan satu doa di awal
tahun yang bunyinya kira-kira seperti ini,

“ya tuhan, jika kau
sayang aku, tolong beri aku kesempatan untuk mengulang rasa bagaimana menjadi
aku saat titik belum datang padaku. Ya, betul. Aku ingin paling tidak satu kali
dalam satu bulan aku pergi ke kota orang. Aku ingin bertemu dengan banyak hal
yang belum pernah aku temui, berbincang dengan orang yang belum pernah aku
kenal dan menginjak tanah dan memandang tempat yang belum kukenali bagaimana
rupa dan suasananya. Semuanya itu agar supaya aku bisa lebih paham bagaimana
cara aku harus bersyukur atasmu; atas bahagia dan karunia yang selalu kau
berikan walau kadang aku tak paham apa maksud dan tujuan”.

Dan benar saja. Sesaat setelah aku berbicara seperti itu
pada tuhan, tuhan seakan selalu mencintaku dengan memberiku kejutan-kejutan
yang aku tak kuasa utarakan bagaimana bahagianya aku saat menerimanya.

Doaku terkabul. Sejauh ini percis terkabul.

Di Bulan Januari, tuhan memberiku kesempatan untuk
bertandang ke Bandung dan lalu aku pulang ke rumah Jakarta dan melancong ke
Purworejo dan sekitar untuk berburu durian. Lalu di Bulan Februari, aku Ke Bali
untuk melepaskan beban pikiran lalu ke Bandung dan lalu Semarang. Bulan Maret
aku kembali lagi ke Semarang dan lalu menjelajah kota Jogja di titik yang belum
pernah aku eksplorasi dan percis tiga hari lagi, aku akan ke Bali lagi.

Aku memang belum bisa 100% bilang bahwa tuhan mengabulkan
doaku dengan sempurna karena nyatanya masih ada 9 bulan ke depan yang aku belum
tahu apakah tuhan juga akan memberiku kesempatan-kesempatan bertandang ke kota
orang seperti yang aku mohonkan. Tapi paling tidak, aku bisa bilang bahwa “Jika
hendak berdoa pada tuhan, hati-hati”! Karena aku yakin tuhan dengar dan akan
selalu kabulkan semua doa dan harapan juga rencana yang pastinya akan membuat kita senang.

“Terima kasih tuhan, untuk telah selalu memberi banyak
hal baik dalam perjalananku. Terima kasih karena lagi-lagi kau memberiku
orang teramat baik yang mampu menemaniku dan membuatku bahagia. Terima kasih untuk semua paham dan maklum yang kau berikan untuk semua keliru yang aku perbuatkan.Terima kasih karena sudah selalu menerimaku lagi dan lagi. Terima kasih banyak, aku banyak belajar dan aku siap atas semua ajar yang akan kau berikan padaku melalu banyak kejutan yang mungkin sudah kau rencanakan”
, 🙂

TITIK. TITIK BALIK

Titik adalah sebuah (aduh entah apa aku harus menyebutnya) yang
selalu ada di mimpiku yang bentuk juga sifatnya adalah (ternyata) buatanku;
buah karya imajiku. Sedikit menengok ke belakang, aku mengenal titik sudah dari
2008. Waktu itu, aku mengenalnya hanya sebatas cerita. Titik adalah teman
dekatnya bunga-ku, mereka saling mencinta dan aku, di posisi yang bahagia
melihatnya. Bertahun-tahun hidupku penuh cerita tentang titik. Bunga selalu
menemuiku hanya untuk bercerita tentang baik dan bahkan buruk hubungan mereka,
sesekali meminta saran. Bunga memilihku karena menurutnya ada beberapa hal yang
antara titik dan aku, dimana kami mirip. Bunga seperti mendapat jawaban
bagaimana harus memperlakukan titik seperti apa setelah ia terlebih dahulu bertanya
seperti apa aku ingin diperlakukan. Di part ini, dulu, sungguh aku tidak
mengerti dimana letak korelasi.

Satu tahun berlalu, dua tahun berlalu dan bertahun-tahun
berlalu hingga titik dan bunga sudah tidak lagi bersama. Aku ingat, aku adalah
orang yang marah saat titik memperlakukan bunga dengan tidak baik. Titik pergi
dengan perempuan lain saat sebelumnya titik memberi kata cinta dan janji baik
pada bunga. Bunga, mencintai titik dengan sempurna. Namun titik, ternyata lebih
mencintai dirinya dengan luar biasa sempurna. Aku adalah orang yang masih sama
yang menyampaikan salam dari bunga untuk titik saat bunga nyatanya rindu titik.
Aku juga masih memiliki peran yang sama saat aku secara inisiatif mencari tahu
bagaimana rupa pacar titik yang baru, seperti apa lingkungannya, bagaimana
perilakunya dan lalu setelahnya aku memberi tenang bunga dengan meyakinkan
bahwa titik akan selalu baik-baik saja karena pacar barunya adalah baik.

Hingga akhirnya aku ada di satu fase dimana aku mencinta
titik. Fase yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Percis 3 tahun lalu,
aku dan titik terlibat ke dalam satu percakapan yang itu tanpa melibatkan
bunga. Aku dan titik berteman tanpa perantara bunga. Aku tidak berpikir jauh
tentang kondisi dan situasi hingga sampai aku merasa bahwa aku seperti berkaca
sendiri. Aku akhirnya paham mengapa bunga selalu bilang kami mirip. Aku sadar
bahwa apa yang titik laku dan pikirkan, nyatanya juga aku perbuatkan. Titik
penuh gengsi, aku juga sama. Titik selalu melogikakan banyak hal, aku juga sama.
Titik baik pada semua orang sehingga sering menyebabkan salah paham perasaan, aku juga sama. Titik semaunya sendiri, aku juga sama. Titik egois, aku juga sama. Titik tidak tahan godaan, aku juga sama. Titik
gampang jatuh cinta dan kemudian lupa, aku juga sama. Titik teramat centil, aku
juga sama. Titik seperti anak kecil, aku juga sama. Titik adalah orang paling
jahat sedunia, dan di part ini sayangnya aku juga lagi-lagi sama.

Aku bahkan tidak mampu mencari letak dimana aku dan titik
berbeda.

Singkat cerita, 3 tahun lalu akhirnya aku memiliki kedekatan
dengan titik. Kami nyaman, saling nyaman. Lalu kemudian titik pergi ke luar
negeri dan lalu lupa. Titik pergi begitu saja. Aku marah tapi aku bisa apa.
Pun, jika aku di posisi titik, aku juga akan melakukan hal yang sama. Aku paham
bagaimana titik bisa mengambil keputusan itu. Aku berusaha mengerti dan sambil
menanti. Berharap dan meyakini bahwa titik akan pulang suatu hari nanti.

Benar! Setelah 2 tahun menanti, titik kembali datang lagi.
Setelah berkali-kali pergi ke tempat terapi dan meditasi, nyatanya hadir titik
masih tidak bisa aku ingkari. Semua marahku hilang karena nyatanya titik masih
tempat nyaman untukku pulang. Sama atas semua sikap dan perilaku juga pemikiran
kami membuatku yakin bahwa jika aku bersama titik, aku tidak akan pernah merasa
takut karena bagaimana pun salah dan keliru yang aku produksi, titik adalah
satu-satunya yang akan bisa memahami dan juga memaklumi.

Aku lalu bersama titik kembali. Semua teman bilang jangan!
Mereka tidak percaya titik. Mereka marah pada titik. Mereka benci titik. Semua
aku terima dan aku dengarkan tapi aku nyatanya lebih mencintai diriku. Aku
memilih untuk bersama titik karena aku yakin titik masih orang baik. Dan benar!
Titik baik dan kami sangat baik. Aku merasa seperti menjadi orang paling
bahagia sampai saat ternyata titik harus pergi ke luar negeri lagi. Dulu, kami
tidak lagi menjadi kami karena momen ini dan kali ini kami melewati momen ini
lagi. Aku takut! Tapi aku harus berani. Aku yakin titik. Aku yakin kami bisa,
pun aku akan mengusahakan semua sebisaku; semampuku.

Tapi titik adalah titik. 4 bulan kami bersama, titik kembali
pergi. Masih dengan alasan sama dan dengan cara yang sama. Titik pergi karena
tidak tahan jika harus berjauh diri. Titik merasa bahwa semua yang nyata adalah
yang hanya ada di dekatnya. Sementara aku, semu. Semua yang aku laku, tak
ubahnya angin lalu. Aku marah, jelas sangat marah. Tapi untuk sampai pada tahap
benci, aku sungguh tak mampu hati. Aku benar-benar sadar bahwa titik adalah
cerminan. Sehingga apa yang titik laku pikirkan, itu pasti dan juga akan aku laku
pikirkan dengan bentuk sama atau bahkan hal-hal yang menyerupainya.

Aku ingat, aku benci titik yang selalu rajin belajar walau
aku yakin titik juga selalu benci aku yang terlalu banyak main. Aku benci titik
mencintai sahabat di atas segalanya tanpa aku pernah berkaca bahwa aku juga
mencinta sahabatku dengan sangat sempurna. Titik tidak pernah menganggapku,
tapi aku juga melakukan hal yang sama dengan tidak menghargai hadirnya. Titik
gampang berpaling; beberapa waktu setelah ia pergi nyatanya ia memiliki kekasih
hati. Lalu, apa bedanya denganku? Aku, mungkin melakukan hal yang sama juga.
Jadi, dimana letak aku berhak marah sampai membenci? Bedanya mungkin, aku
sedikit lebih tahu diri sehingga aku hanya akan dikenal sebagai aku yang
seenaknya sendiri. Sedang titik, titik adalah orang yang selalu mempermainkan
dan menyakiti banyak perasaan. Walau memang mungkin iya begitu adanya, tapi aku
masih sangat percaya bahwa titik adalah masih orang baik sebaik aku menyakini
bahwa semua hal yang diproduksi titik hanyalah karena titik memang tidak bisa
sendiri dan berjauh diri jika itu perihal relasi. Dan aku, sekuat tenaga
berusaha memahami.

Seperti yang selalu aku sampaikan pada titik, bahwa jika
titik pergi kembali maka dengan amat sangat aku memohon untuk tidak perlu
datang kembali. Dan hal yang aku upayakan supaya mohonku terwujud adalah dengan
aku selalu sertakan titik dalam doa selalu sehat dan kelak mendapat pasangan
baik lagi membaikkan sehingga titik tidak perlu pulang. Agar aku bisa senantiasa
tenang, 🙂

Terima kasih titik, untuk semua hal baik yang kamu berikan
dan terima kasih karena dengan adanya kamu, aku menjadi sadar bahwa ternyata di
luar sana ada begitu banyak orang yang mampu mencintaiku dengan sangat sempurna
tanpa kamu di dalamnya. Terima kasih dan semoga kamu selalu dikelilingi
orang-orang terkasih.

Yogyakarta, Januari 2016

Andai aku, oriental.

Ya tuhan, kenapa kau beri rasa ini lagi? Kau ingin aku belajar ikhlas berapa kali lagi?

Dulu, kau pernah memberiku rasa yang sama, uji coba ikhlas yang sama dan dengan kondisi yang sama.

Dan jika kini kau beri semua yang percis sama, aku harus berbuat apa? Kau ingin aku berlaku seperti apa?

Rasa baru.

“Berbicara tentangmu, memang selalu perihal egoku”, aku.

Ucapku pada diri sendiri dan pada semua orang yang meragukanmu. Caraku menguatkanku. Jika di awal aku selalu bilang bahwa kamu adalah egoku, maka hari ini aku tambah-koreksi. 

“Berbicara tentangmu, memang selalu perihal ego dan wajibku untuk menunggu”, aku.

Ya, itu ucapku pada pikiranku; ucapku pada tubuhku; dan ucapku pada semua laku. Jika itu perihal kamu, aku seperti tak cukup ada kuasa untuk meminta. Aku seperti sudah terbiasa untuk selalu baik-baik saja. Aku tau itu bukan rasa yang tak baik, hanya saja, berpura-pura untuk selalu baik itu juga tidak baik.

Harini aku punya definisi rasa baru dalam hatiku; rasa yang sedih tapi senang namun nyaman. Aku bisa jelaskan. Rasa yang baru aku temukan adalah perpanjangan dari rasa rindu yang selalu membuatku candu; yang membuatku selalu yakin akan hadirmu. 

—————-

* aku yang ragu akan segala laku.

Dari aku, yang tak pernah tahu diri.

Tidak ada yang lebih
baik yang bisa aku ucapkan pada tuhan saat ini selain ‘terima kasih’, aku rasa.  Entah apa yang ada padaku atau memang benar
adanya bahwa tuhan memang se-maha baik itu, tapi aku merasa bahwa tuhan selalu
sangat mencintaiku dengan sempurna dan dengan segala baiknya.

Aku ingat, aku
pernah meminta satu hal yang menurut banyak orang adalah suatu bentuk
kemustahilan. Pun aku juga ingat bahwa saat aku meminta, aku adalah (masih) individu
yang jauh dari kata ‘ingat pada tuhannya’. Tapi dengan segala lupa akan
pencipta, tuhan tetap selalu mencinta dan tetap selalu memberi jawaban atas
semua yang aku pinta; dengan sangat sempurna.

Mungkin ada sebagian
orang yang merasa perlu mendekatkan diri pada tuhan karena kewajiban dan karena
ingin beberapa pinta dalam hidup agar dikabulkan, namun lain halnya denganku.
Aku, si makhluk aneh yang selalu merasa bisa sendiri, yang selalu merasa bahwa
semua hal yang terjadi adalah hasil dari usaha dan kerja keras diri sendiri ini
pada akhirnya menemukan jalan menuju tuhan karena segala kebaikan yang tuhan
beri tanpa pernah menungguku duduk berdiam diri dan memohon sepanjang hari.

Dengan semua hal
yang aku miliki saat ini, sungguh aku sangat berterima kasih sekali. Pun, aku
juga tidak memiliki alasan lagi untuk hanya sekadar berpikir untuk mengingkari;
jika itu berbicara tentang tuhan perihal eksistensi. Aku tahu bahwa bukan hidup
namanya jika selalu memberi semua yang kita mau tanpa pernah pertimbangkan ini
itu, tapi aku juga sangat tahu bahwa selalu ada mudah yang akan hidup beri.

Terima kasih
sekali lagi dan berkali-kali lagi untuk semua (hanya) bahagia yang aku miliki
saat ini, walau aku tahu kadang aku selalu ingin lebih tapi aku tahu itu hanya
bukti bahwa aku memang manusia sejati.

Maaf untuk aku yang
pernah ada di posisi lupa, yang pernah ada di posisi bahagia dan lalu lupa, pun
aku yang pernah ada di posisi tidak bahagia dan masih tetap lupa.

 

*Dari aku, yang
tak pernah tahu diri. Yang selalu butuh dicintai dan lalu baru mencari. Terima
kasih juga untuk rindu dan yakin yang selalu kau pelihara, tuhan. Terima kasih
banyak; karena setidaknya kau pernah membuatku merasa tidak seperti manusia biasa 🙂

Seminggu lalu

Seminggu lalu,

spesial untukku. Selain hidup kembali menggenapkan usiaku ,

seminggu lalu juga hidup kembali menyadarkanku betapa aku hanyalah biasa dan sama.

Aku (nyatanya) hanya pandai bermimpi dan hanya gemar berekspektasi tinggi.

Aku (mungkin hanya) sudah terlalu lama lupa bahwa hidup tidak akan melulu akan selalu berbaik hati.

Hingga saat hidup memperlakukanku dingin,

aku merasa berhak bersikap seperti tidak mengenali.

Hingga pada akhirnya setelah semua sama dan biasa yang hidup beri, aku sadar ini semua hanya karena aku yang gemar berekspektasi tinggi; berpikir bahwa aku bisa selalu sesuka hati dan hidup akan selalu sabar dan setia menemani.

🙂

Aku hanya ingin dan hanya aku yang ingin.

#3

Cinta harus jatuh pada tuju akurat, maka berusaha dan berdoalah dengan cara yang tepat.

Teman bilang, cinta itu tidak boleh percaya mitos. Mencari orang berbeda supaya ia bisa melengkap, itu gila. Sebahagian orang berkata ‘iya’.

Karena cinta bisa memudar, oleh sebabnya ia perlu ditopang kelogisan.

Karena cinta mungkin bisa hilang, tapi bisa jadi kelogisan yang akan menuntunnya pulang.

Jika memang benar begitu adanya, tentu aku menaruh harap bahwa kau adalah separuh logis yang akan segera pulang. Yang sedang kubiar-ikhlaskan bertandang pada siapa saja yang kau temu dalam perjalanan.

Yogyakarta, 31/07/14

Jessy.